NADIKABAR.COM — Kadar gula darah yang tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Sebagian orang mungkin hanya merasa lebih mudah lelah, mengantuk, atau mengalami perubahan kondisi tubuh yang dianggap sebagai hal biasa akibat aktivitas sehari-hari.

Padahal, gula darah tinggi yang berlangsung dalam waktu lama dapat menjadi tanda diabetes dan meningkatkan risiko berbagai komplikasi kesehatan. Karena gejalanya bisa berkembang secara perlahan, seseorang terkadang baru mengetahui kondisinya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Gula darah atau glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Hormon insulin membantu glukosa masuk ke dalam sel agar dapat digunakan sebagai energi. Namun, ketika tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakannya secara efektif, glukosa bisa menumpuk di dalam darah.

Lantas, apa saja gejala gula darah tinggi yang kerap tidak disadari? Berikut beberapa tanda yang perlu Anda kenali.

1. Mudah lelah meski tidak banyak beraktivitas

Merasa lelah setelah bekerja atau melakukan kegiatan fisik merupakan hal yang wajar. Namun, jika tubuh terasa lemas atau kehabisan energi meskipun sudah beristirahat, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Kelelahan dapat menjadi salah satu gejala gula darah tinggi. Ketika tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa secara efektif, proses penyediaan energi bagi sel dapat terganggu.

Meski begitu, mudah lelah bukan berarti seseorang pasti mengalami diabetes. Kurang tidur, anemia, stres, dan sejumlah kondisi kesehatan lain juga dapat menyebabkan keluhan serupa.

Jika kelelahan berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya.

Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama pada malam hari, juga bisa menjadi tanda kadar gula darah tinggi.

Ketika kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi, ginjal berusaha membuang kelebihannya melalui urine. Proses tersebut dapat menarik lebih banyak cairan sehingga jumlah urine meningkat.

Akibatnya, seseorang mungkin lebih sering pergi ke toilet, termasuk ketika sedang tidur. Kondisi ini juga dapat membuat tubuh kehilangan cairan lebih banyak dari biasanya.

Namun, sering buang air kecil dapat disebabkan oleh hal lain, seperti terlalu banyak minum, konsumsi kafein, penggunaan obat diuretik, atau gangguan saluran kemih.

Jika perubahan frekuensi buang air kecil terjadi tanpa alasan yang jelas dan berlangsung berulang kali, pemeriksaan kesehatan dapat membantu memastikan penyebabnya.

Rasa haus yang muncul setelah berolahraga atau ketika cuaca panas merupakan respons normal tubuh. Akan tetapi, rasa haus yang berlebihan dan terus berulang meskipun sudah cukup minum perlu diwaspadai.

Kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan pengeluaran cairan melalui urine. Kehilangan cairan tersebut kemudian memicu rasa haus sebagai respons tubuh terhadap kebutuhan cairan.

Dalam kondisi tertentu, rasa haus berlebihan dapat muncul bersamaan dengan sering buang air kecil. Jika kedua gejala ini terjadi terus-menerus, sebaiknya jangan mengabaikannya.

Meski demikian, rasa haus saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami diabetes. Kondisi tersebut juga bisa dipengaruhi oleh cuaca, aktivitas fisik, serta penyebab lain yang perlu dievaluasi.

Penglihatan yang tiba-tiba terasa kurang jelas atau berubah-ubah juga dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi.

Perubahan kadar glukosa dapat memengaruhi keseimbangan cairan pada jaringan mata, termasuk lensa. Akibatnya, penglihatan bisa menjadi kabur untuk sementara waktu.

Sebagian orang mungkin menganggap kondisi tersebut hanya disebabkan oleh kelelahan setelah terlalu lama menatap layar atau kurang tidur. Padahal, jika keluhan sering terjadi, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

Penglihatan kabur juga dapat disebabkan oleh gangguan mata atau masalah kesehatan lainnya. Jika terjadi secara mendadak, terutama disertai kehilangan penglihatan atau nyeri mata, segera cari pertolongan medis.

Luka kecil akibat tergores, teriris, atau mengalami lecet biasanya akan membaik secara bertahap. Namun, pada orang dengan diabetes yang tidak terkontrol, proses penyembuhan luka dapat berlangsung lebih lama.

Kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi pembuluh darah dan saraf serta memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi. Kondisi tersebut dapat membuat luka lebih sulit sembuh.

Tanda yang perlu diperhatikan antara lain luka yang tidak kunjung membaik, kemerahan yang meluas, pembengkakan, atau munculnya cairan dari luka.

Jangan menunggu luka menjadi parah sebelum memeriksakannya, terutama jika luka berada di kaki. Bagi penderita diabetes, luka pada kaki perlu mendapat perhatian khusus karena dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

6. Mudah lapar meskipun sudah makan

Sering merasa lapar meskipun baru selesai makan juga dapat menjadi salah satu gejala diabetes.

Ketika insulin tidak bekerja secara efektif atau jumlahnya tidak mencukupi, glukosa dalam darah tidak dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh secara optimal. Kondisi tersebut dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan energi dan memicu rasa lapar.

Meski demikian, rasa lapar yang meningkat tidak selalu berkaitan dengan gula darah tinggi. Pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan perubahan hormon juga dapat memengaruhi nafsu makan.

Jika rasa lapar berlebihan terjadi bersamaan dengan sering haus, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sebaiknya lakukan pemeriksaan kesehatan.

7. Berat badan turun tanpa alasan yang jelas

Penurunan berat badan yang terjadi tanpa perubahan pola makan atau peningkatan aktivitas fisik juga perlu diperhatikan.

Pada kondisi diabetes tertentu, tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan baik sebagai sumber energi. Akibatnya, tubuh dapat memanfaatkan cadangan lemak dan otot untuk memenuhi kebutuhan energi.

Proses tersebut bisa menyebabkan berat badan berkurang meskipun seseorang tidak sedang menjalani program penurunan berat badan.

Namun, berat badan yang turun tanpa sebab jelas juga dapat berkaitan dengan berbagai kondisi lain. Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah diabetes.

Jika berat badan terus menurun tanpa disengaja, terutama jika disertai rasa haus berlebihan dan sering buang air kecil, segera konsultasikan dengan dokter.

8. Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki

Kesemutan yang terjadi sesekali, misalnya setelah duduk terlalu lama dalam posisi tertentu, biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, kesemutan atau mati rasa yang berulang dan berlangsung lama perlu diperiksa.

Kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak saraf. Kondisi ini dikenal sebagai neuropati diabetik dan dapat menimbulkan sensasi kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau berkurangnya kemampuan merasakan sentuhan, terutama pada kaki dan tangan.

Keluhan tersebut tidak selalu muncul pada tahap awal diabetes. Meski demikian, gejala yang menetap perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.

Jika Anda mengalami mati rasa pada kaki, periksa kondisi kulit dan telapak kaki secara berkala. Luka yang tidak terasa sakit sekalipun tetap perlu diperhatikan.

Sebagian orang dengan kadar gula darah tinggi dapat lebih rentan mengalami infeksi, termasuk infeksi kulit, saluran kemih, atau infeksi jamur.

Kadar glukosa yang tinggi dapat memengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh dan menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme tertentu.

Infeksi yang berulang tidak otomatis menandakan diabetes. Namun, jika keluhan tersebut terjadi berulang kali, sulit sembuh, atau disertai gejala lain yang mengarah pada gula darah tinggi, pemeriksaan medis dapat membantu mengidentifikasi penyebabnya.

Apakah gejala gula darah tinggi selalu terlihat?

Tidak. Salah satu hal yang membuat diabetes perlu diwaspadai adalah gejalanya bisa sangat ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali, terutama pada diabetes tipe 2.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), gejala diabetes tipe 2 dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Sebagian orang bahkan baru mengetahui dirinya mengalami diabetes ketika menjalani pemeriksaan atau mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan penyakit tersebut.

Karena itu, tidak adanya gejala bukan jaminan bahwa kadar gula darah selalu normal. Pemeriksaan dapat menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti berat badan berlebih, riwayat keluarga diabetes, kurang aktivitas fisik, atau pernah mengalami diabetes gestasional.