Dia menilai demokrasi kehilangan tujuan utamanya apabila kekayaan nasional hanya terkonsentrasi pada segelintir kelompok yang disebutnya sebagai "serakahnomic".

Kondisi tersebut, kata dia, bertentangan dengan cita-cita demokrasi yang seharusnya menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Dia pun turut mengutip pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno untuk menggambarkan ketimpangan distribusi kekayaan.

"Jangan sampai rakyat yang mati-matian berjuang, tapi yang mengkonsumsi nangkanya hanya segelintir atau satu persen orang atau kelompok, sementara 99 persen rakyat hanya kena β€˜getahnya’ saja," katanya.