NADIKABAR.COM — Kelompok Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Mandiri Sawahlunto, Sumatera Barat, mengembangkan usaha budidaya madu galo-galo sebagai kegiatan produktif untuk meningkatkan kemandirian ekonomi anggota sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis potensi daerah setempat.

Ketua Kelompok ABK Mandiri Sawahlunto Delvia Syandra, di Sawahlunto, Jumat, mengatakan, kelompok tersebut awalnya dibentuk oleh sekitar dua hingga tiga orang tua ABK sebagai wadah silaturahmi, saling belajar dan menguatkan, sampai kini berjumlah 15 anak.

Menurut Delvia, kekhawatiran terhadap masa depan ABK yang belum mampu mengurus diri secara mandiri dan belum memiliki kegiatan produktif menjadi salah satu alasan kelompok mengembangkan kegiatan kewirausahaan.

"Kelompok ini kemudian berkembang menjadi ruang belajar mengenai pengasuhan, psikologi, sosial, manajemen hingga kewirausahaan. Kegiatan produktif diarahkan sebagai bagian dari proses mempersiapkan ABK menuju kemandirian," kata dia.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah budidaya madu galo-galo. Kelompok sebelumnya telah mencoba melakukan budidaya secara mandiri, tetapi hasil awal belum mencapai target karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman anggota.

Kelompok kemudian mengajukan dukungan kepada PTBA untuk mengembangkan budidaya tersebut. PTBA memberikan lima stup atau koloni galo-galo disertai pendampingan melalui Hery Setiawan, pembudidaya madu galo-galo di Sawahlunto.

Hery mengatakan perawatan galo-galo relatif mudah dan berisiko rendah sehingga ABK dapat dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Teknik perawatan hingga panen diajarkan kepada anggota secara telaten dan berulang-ulang.

Menurut Hery, anak-anak anggota kelompok cukup antusias mempraktikkan pengetahuan yang diberikan. Delvia mengatakan keterlibatan anak-anak yang awalnya takut merawat dan memanen kini berkembang menjadi lebih terbiasa mengikuti kegiatan panen.

Sementara GM PTBA Ombilin Mining Site Yulfaizon mengatakan pihaknya mengapresiasi kegiatan produktif yang dilakukan kelompok ABK tersebut. Berdasarkan pemantauan, kelompok menjalankan kegiatan dengan baik dan teratur.

"Berdasarkan hasil evaluasi, dukungan kepada kelompok dapat diteruskan. PTBA memberikan dukungan sesuai kebutuhan dan permintaan dengan mempertimbangkan kondisi serta kelayakan kegiatan," ujarnya merinci.

Hasil panen madu galo-galo selanjutnya diambil oleh Hery sehingga kelompok memiliki saluran penjualan setiap kali panen, yakni dengan rata-rata panen dilakukan sekitar dua bulan sekali.

Hasil penjualan atau keuntungan kegiatan dihitung dan dibagikan kepada anggota kelompok setiap tahun sehingga kegiatan tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi anggota.