NADIKABAR.COM — Ajang tahunan OpenAI DevDay yang berlangsung di Fort Mason, San Francisco, mendadak memanas setelah diwarnai aksi unjuk rasa besar-besaran.

Puluhan demonstran dari belasan organisasi pekerja dan kelompok aktivis berkumpul mengepung area pintu masuk lokasi acara, menuntut CEO OpenAI Sam Altman untuk menghentikan kerja sama teknologi dengan lembaga militer serta badan penegak hukum seperti U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Gelombang protes tersebut membawa berbagai spanduk dan selebaran kritis yang menyasar ekspansi bisnis OpenAI:

Aksi unjuk rasa ini disponsori oleh gabungan organisasi besar, termasuk Bay Resistance, Tech Workers Coalition, Service Employees International Union (SEIU), San Francisco Rising, San Francisco Labor Council, serta gerakan boikot QuitGPT.

Aksi ini mencerminkan merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap industri kecerdasan buatan (AI). Selain minimnya regulasi pemerintah dan konsentrasi kekuasaan di tangan raksasa teknologi, kecemasan publik juga makin dipicu oleh maraknya insiden peretasan data pribadi serta maraknya sistem AI liar (rogue system) dalam beberapa bulan terakhir.

Hingga pembukaan panggung utama DevDay dimulai, para pengunjuk rasa terus menyuarakan kritik tajam setiap kali nama Sam Altman disebut oleh panitia di lokasi acara, demikian dikutip NadiKabar dari The Verge, Kamis (1/10/2026).