Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) juga menunjukkan nilai positif sekitar plus 0,69 derajat Celsius.

Secara klimatologis, kedua fenomena tersebut cenderung mengurangi aktivitas konveksi di sebagian wilayah Indonesia. Namun, pengaruh iklim global tidak serta-merta menghilangkan peluang terjadinya cuaca ekstrem pada skala regional maupun lokal.

Indeks Madden-Julian Oscillation (MJO) pada 27 Oktober juga berada di fase 2 dengan amplitudo sekitar 1,40. Aktivitasnya terpantau di kawasan Samudra Hindia bagian barat dan belum dapat dinyatakan sebagai penguatan konveksi utama di atas Indonesia.

Di sisi lain, atmosfer sedang mengalami transisi menuju periode monsun Asia, meskipun angin timuran masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia.

"El Niño kuat bukan berarti Indonesia bebas dari cuaca ekstrem. Ketika kelembapan, konvergensi, dan ketidakstabilan atmosfer berinteraksi, awan konvektif tetap dapat berkembang intens, bahkan berpotensi terorganisasi pada skala meso," tulis Deni.