"Dengan memodelkan evolusi Matahari dan membandingkan hasilnya dengan pengamatan tepat terhadap bagian dalamnya, kami menemukan bahwa penyerapan super-Bumi dapat membantu menjelaskan perbedaan yang telah lama ada antara model Matahari standar dan pengamatan, termasuk perubahan halus dalam struktur internal Matahari dan berkurangnya kelimpahan litium," kata Yildiz.
"Kami tertarik untuk mengetahui apakah masalah-masalah ini mungkin memiliki asal usul yang sama dalam sejarah kimia awal Matahari," imbuhnya.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society tersebut menjelaskan bahwa bintang-bintang muda seperti Matahari pada masa awalnya dikelilingi oleh awan gas dan debu pipih yang luas yang disebut cakram protoplanet, tempat sejumlah besar material dapat berpindah antara cakram dan bintang.
"Karena planet terbuat dari material yang secara kimiawi berbeda dari gas di dalam cakram, kami bertanya-tanya apakah penelanan awal sebuah planet dapat meninggalkan jejak kimia di dalam Matahari muda," kata Yildiz.
Dengan menggunakan perangkat lunak evolusi bintang tingkat lanjut, Yildiz dan rekan-rekannya menguji ide mereka dengan menyelidiki berbagai cara Matahari dapat menelan sebuah planet.
Hasil penelitian mereka menemukan bahwa model yang paling sesuai dengan karakteristik Matahari saat ini adalah hasil kanibalisme sebuah planet dengan massa antara lima hingga sepuluh kali massa Bumi, yaitu jenis planet yang disebut super-Bumi. Hal ini dapat menjelaskan karakteristik Matahari yang aneh dan tak terduga.