NADIKABAR.COM — Polisi mengungkap aktivitas Sutrimo sebelum ditemukan tewas di depan klinik di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Berdasarkan rekaman CCTV itu Sutrimo sempat terlihat berboncengan motor dengan sosok misterius.
Dari timeline yang dijelaskan oleh Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dewa Anom Danunjaya, terungkap Sutrimo sempat berboncengan motor dengan seseorang pada tanggal 22 Juli 2026 malam hingga 23 Juli 2026 dini hari.
Belum jelas siapa sosok yang berboncengan dengan Sutrimo tersebut. Kini, pihak kepolisian tengah mendalami sosok yang berboncengan dengan Sutrimo sebelum ditemukan tak bernyawa itu.
"Untuk yang boncengan masih kita dalami. Tentunya dalam proses ini tadi kan kami sampaikan, kesimpulan kami dalam proses penyidikan adalah belum ditemukan peristiwa pidana," kata AKBP Dewa Anom Danunjaya dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Rabu (30/9/2026).
Anom mengatakan hasil penyelidikan mendalam akan dikumpulkan dan dianalisis secara komprehensif. Sehingga, bisa mendapatkan kesimpulan terkait proses penyidikan secara keseluruhan oleh penyidik.
"Kemudian nanti beberapa fakta-fakta tersebut akan kami korelasikan tentunya apabila ada tambahan, kami juga akan sinkronisasikan menjadikan sebuah alat bukti dan kesimpulan dari proses penyidikan yang dilakukan," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Tim Ekshumasi dan Autopsi Sutrimo, dr Ahmad Yudianto mengatakan berdasarkan hasil ekshumasi dan autopsi, Sutrimo sendiri meninggal dunia karena penyakit jantung iskemik.
"Jadi berdasarkan dari temuan serta fakta-fakta dalam proses pemeriksaan ekshumasi dan autopsi, jadi seperti saya kami simpulkan tadi bahwasanya meninggalnya Tuan Sutrimo ini karena penyakit jantung iskemik," kata dia.
Ketika ditemukan tak bernyawa, jenazah Sutrimo dalam keadaan mulut berbusa. dr Ahmad Yudianto menjelaskan penyebab munculnya bisa dari mulut Sutrimo itu.
"Sedangkan busa yang keluar dari korban Almarhum Sutrimo ini diakibatkan oleh karena menyebutnya adalah edema paru akut. Itu bisa disebabkan karena adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit untuk apa saluran napas itu apa tidak lancar sehingga seperti dikocok. Sehingga keluar busa warna putih," jelasnya.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya mengungkapkan kronologi kematian Sutrimo berdasarkan hasil penyelidikan dan penelusuran CCTV. Penelusuran dilakukan mulai tanggal 22 Juli 2026 lalu.
"Jadi dari tanggal 22 (Juli 2026), pukul 21.20 WIB, kemudian 21.29 WIB, 21.33 WIB, korban melintas tepat di Klinik SAS. Korban menggunakan motor Mio dengan nopol sekian, motor didorong," kata AKBP Dewa Anom Danunjaya.
Kemudian pada pukul 21.40 WIB, Sutrimo terlihat keluar dari lokasi menggunakan sepeda motor bersama satu orang dengan mendorongnya melewati Jalan Radio 3, Jakarta Selatan (Jaksel).
"Ini sudah di tanggal 23 Juli 2026. Korban terpantau melintas di Jalan Petogogan 2 menggunakan motor. Kemudian korban melintas di depan klinik menggunakan motor," jelasnya.
Kemudian korban melintas di depan klinik menggunakan sepeda motor Yamaha Jupiter. Korban lalu melintas di Jalan Petogogan 1 pada dini hari tanggal 23 Juli 2026.
"Sampai jam 03.11 WIB korban dibonceng keluar dari Jalan Radio 1 menggunakan motor dengan nopol sekian, kemudian berputar balik di arah perempatan Radio Dalam," sebutnya.
Kemudian Sutrimo berhenti di warung makan di Jalan Radio Dalam Raya pada waktu yang sama. Korban kemudian melintas ke Jalan Kiai Haji Ahmad Dahlan usai makan. Saat ditemukan meninggal dunia, Sutrimo dalam keadaan mulut berbusa.
"Nomor 28 korban terpantau mengendarai motor dengan nopol sekian berhenti di depan TKP (tempat kejadian perkara), ini sudah kembali. Nomor 30, ambulans dengan nopol sekian keluar dari TKP menuju Rumah Sakit Muhammadiyah," imbuhnya.
"Berarti ini peristiwanya sudah meninggal. Inilah rangkaian dari fakta-fakta CCTV yang berhasil kami ambil. Kita mengambil puluhan titik CCTV untuk melihat rangkaian peristiwa sehingga kami pengin menghadirkan fakta yang sebenarnya terjadi dari peristiwa meninggalnya korban atas nama Sutrimo," tambah dia.