NADIKABAR.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Fenomena tersebut tidak hanya dapat dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam serta cara manusia memandang ruang hidupnya.

Guru Besar Antropologi Ekologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Mohammad Adib, mengatakan karhutla merupakan manifestasi ekstrem dari konflik perspektif manusia dalam memaknai ruang hidup.

Menurut Adib, lahan gambut kerap dipandang berbeda oleh berbagai pihak. Bagi negara dan korporasi, kawasan gambut cenderung dilihat sebagai ruang yang memiliki nilai komoditas. Sementara bagi masyarakat adat, gambut merupakan bagian dari ruang hidup yang tidak terpisahkan dari kebudayaan serta sistem tata air.

Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan adanya persoalan dalam relasi manusia dengan alam. Ketika satu cara pandang, khususnya perspektif kapitalis, dipaksakan dan mengabaikan sistem ekologis serta pengetahuan lokal yang telah berkembang di masyarakat, dampaknya dapat memicu kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran hebat.

"Fenomena ini secara jelas menunjukkan krisis relasi manusia dengan alam. Kebakaran hebat meledak ketika pemaksaan satu ontologi kapitalis dari atas menghancurkan sistem ekologi dan ontologi lokal," jelasnya, dikutip dari laman Unair, Sabtu (5/9/2026).