NADIKABAR.COM — Perjalanan mendapatkan buah hati bagi pasangan dengan masalah kesuburan membutuhkan berbagai pertimbangan, mulai dari kondisi medis hingga pemilihan strategi terapi yang tepat. Seiring perkembangan teknologi kesehatan, program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) kini semakin didukung oleh inovasi yang membantu dokter mengambil keputusan secara lebih akurat.

Salah satu perkembangan yang hadir dalam layanan fertilitas adalah pemanfaatan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) untuk membantu proses seleksi embrio. Teknologi ini digunakan untuk menganalisis data perkembangan embrio sehingga dokter dapat menentukan prioritas embrio yang berpotensi lebih baik untuk ditransfer.

Head of Blastula IVF Siloam Sriwijaya, dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG, Subsp. FER, MIGS, mengatakan penggunaan AI dapat membantu proses pemilihan embrio melalui analisis perkembangan embrio selama berada di laboratorium.

"Dengan menggunakan AI, kami dapat memprioritaskan embrio mana yang terbaik untuk ditransfer pertama sehingga nantinya dapat meningkatkan angka keberhasilan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2026).

Blastula IVF Siloam Sriwijaya mengembangkan layanan fertilitas dengan menggabungkan teknologi, kualitas laboratorium, serta pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Berdasarkan data klinis yang dimiliki, layanan ini mencatat clinical pregnancy rate mencapai 64 persen, melampaui global benchmark sebesar 35 persen. Sejak 2021 hingga saat ini, Klinik Blastula IVF telah membantu proses kelahiran sekitar 600 bayi.

AI dan Teknologi Time-Lapse Bantu Pantau Perkembangan Embrio

Dalam proses IVF, pemilihan embrio menjadi salah satu tahapan penting sebelum dilakukan transfer. Selama ini, penilaian embrio umumnya dilakukan berdasarkan morfologi, yaitu melalui pengamatan bentuk dan tingkat perkembangan embrio menggunakan sistem grading. Namun, metode tersebut belum selalu dapat menggambarkan seluruh potensi perkembangan embrio.