Melalui teknologi time-lapse incubator, perkembangan embrio dapat dipantau secara langsung (live) selama proses kultur. Data mengenai pola perkembangan dan perubahan waktu perkembangan embrio atau morfokinetik kemudian dapat dianalisis dengan bantuan AI untuk mendukung proses seleksi.

"Dengan AI itu akan muncul scoring system. Jadi akan muncul suatu prediksi dari AI berdasarkan morfokinetik dan juga morfologi selama perkembangan embrio di dalam time-lapse incubator, score yang kemungkinan besar akan menjadi implant dan bakal jadi baby," jelasnya.

Tidak Hanya Teknologi, Keamanan Proses IVF Juga Jadi Perhatian

Selain membantu seleksi embrio, Blastula IVF Siloam Sriwijaya juga menerapkan sistem electronic witnessing untuk mendukung keamanan proses laboratorium IVF. Sistem ini menggunakan MIRI Evidence, identifikasi berbasis RFID, serta kode data matriks untuk membantu verifikasi identitas dan pencatatan perjalanan embrio.

Sistem tersebut diterapkan mulai dari proses fertilisasi, kultur dan seleksi embrio, kriopreservasi, pencairan embrio, hingga transfer embrio. Dengan adanya sistem ini, proses identifikasi dapat dilakukan secara lebih terintegrasi sekaligus membantu meminimalkan risiko kesalahan identifikasi.

"Setiap tahapan IVF harus dapat ditelusuri dengan baik. Dengan sistem ini, proses identifikasi dan pencatatan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Jika terjadi ketidaksesuaian, sistem dapat memberikan peringatan sehingga risiko kesalahan identifikasi dapat diminimalkan," katanya.