NADIKABAR.COM — Investasi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus meningkat. Namun, ketika perusahaan mulai membawa AI dari tahap uji coba ke operasional sehari-hari, persoalan lain muncul, yakni fondasi data yang belum siap menjadi salah satu hambatan terbesar untuk melakukan scale-up AI.
Data Streaming Report terbaru Confluent yang diterbitkan pada Juli 2026 menunjukkan, 82% pemimpin TI di Indonesia pernah menghadapi setidaknya tiga tantangan ketika meningkatkan skala inisiatif AI.
Salah satu persoalan terbesar adalah silo data. Sebanyak 83% pemimpin TI di Indonesia menyebut data yang terkotak-kotak di berbagai sistem masih menjadi tantangan utama.
Kondisi tersebut membuat data perusahaan tersebar di berbagai aplikasi, basis data, maupun sistem pelaporan yang dikelola secara terpisah. Informasi pelanggan, misalnya, dapat tersimpan di satu platform, sementara data keuangan dan operasional berada di sistem yang berbeda.
Akibatnya, AI tidak selalu mendapatkan informasi terbaru dan konsisten ketika harus menghasilkan rekomendasi, prediksi, hingga keputusan otomatis.
Selain silo data, 80% pemimpin TI di Indonesia menyebut keterbatasan keterampilan dan keahlian AI sebagai tantangan** dalam meningkatkan skala AI. Sementara itu, 79% menghadapi persoalan infrastruktur yang belum memadai untuk pemrosesan data secara real-time.
Masalah kualitas data juga menjadi perhatian. Sebanyak 77% organisasi menghadapi ketidakjelasan terkait asal-usul, ketepatan waktu, dan kualitas data, sedangkan 76% menghadapi sumber data yang tidak konsisten.