NADIKABAR.COM — Sejumlah situs pemerintah di Eropa dan beberapa wilayah tidak dapat diakses pada Rabu (21/10) setelah temuan celah keamanan kritis pada bahasa pemrograman PHP yang banyak digunakan untuk menjalankan situs web. Celah keamanan ini berhasil ditemukan baru-baru ini dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah lembaga pemerintah memilih menonaktifkan situs mereka sebagai langkah pencegahan setelah muncul peringatan bahwa peretas mulai mengeksploitasi celah keamanan tersebut.
Pengembang PHP telah merilis pembaruan keamanan darurat untuk mengatasi kerentanan yang tersembunyi dalam perangkat lunak tersebut selama bertahun-tahun.
Pengembang mendesak seluruh pengguna segera memperbarui sistem mereka untuk menghindari potensi serangan siber.
Namun, para pakar memperingatkan publikasi perbaikan keamanan tersebut juga memungkinkan peretas mempelajari celah yang ditemukan, terlebih dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Costin Raiu, salah satu pendiri perusahaan riset keamanan siber TLP:Black, menyebut AI mempercepat persaingan antara peretas yang berusaha mengeksploitasi kerentanan dan pengelola situs yang berupaya memperbaiki sistem.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu kompromi massal terhadap server web yang masih memiliki kerentanan.
PHP merupakan bahasa pemrograman yang telah digunakan sejak awal 1990-an. Teknologi ini menjadi fondasi berbagai situs web, termasuk yang menggunakan WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento.
Berdasarkan data W3Techs, PHP digunakan oleh sekitar 75 persen situs web yang bahasa pemrogramannya dapat diidentifikasi.
Besarnya penggunaan PHP membuat kerentanan tersebut berpotensi berdampak luas terhadap layanan internet di berbagai negara.
CEO sementara Drupal Association Tiffany Farriss mengatakan seluruh server yang menggunakan versi PHP yang dirilis dalam 20 tahun terakhir berpotensi terdampak.