Didik mengatakan volume sampah masuk TPA Kebon Kongok dari Mataram dan Lombok Barat mencapai 400 hingga 450 ton per hari. Namun, tingkat cakupan pengangkutan sampah di Lombok Barat masih terbatas karena sejumlah armada truk yang sudah tua dan jumlahnya minim. Berbeda dengan Mataram yang cakupan pengangkutan sampah sudah mencapai 90%.
DLHK NTB meminta kerja sama aktif dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk menerapkan pola pemilahan sampah mulai dari rumah tangga. Upaya itu diperlukan untuk menekan laju darurat sampah dalam jangka pendek.
Pemprov NTB juga tengah menjajaki peluang kerja sama dengan beberapa investor untuk pengolahan sampah menjadi listrik. Penjajakan juga dilakukan dengan anak perusahaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia yang memfasilitasi pengolahan sampah di bawah 1.000 ton per hari.
"Investor yang berminat banyak. Kami juga sedang jajaki skema Danantara untuk pengolahan sampah skala di bawah 1.000 ton. Potensi ini terus kami matangkan," jelas Didik.
Selain pengolahan sampah baru, Didik berujar, Pemprov NTB juga menyiapkan strategi pengerukan atau pemanenan sampah lama landfill mining sesuai arahan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Langkah ini dilakukan untuk mengosongkan kembali area TPA yang sudah menggunung.
"Perintah Pak Gubernur, landfill yang lama nanti di-mining atau dipanen menggunakan teknologi. Jadi area TPA yang tadinya gunung sampah kelak bisa rata kembali. Keuntungan utamanya adalah masalah sampah selesai dan lahan TPA kita kembali pulih," terang Didik.