NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membidik penghematan devisa hingga Rp150 triliun melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor kesehatan.

Upaya tersebut dilakukan dengan menyempurnakan fasilitas KEK kesehatan agar masyarakat Indonesia mau berobat di dalam negeri daripada ke luar negeri.

“(KEK) ini punya potensi untuk substitusi kepada orang Indonesia yang berobat di luar negeri, spending-nya sekitar Rp150 triliun, dan ini yang bisa kita substitusi dengan KEK-KEK,” kata Airlangga dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu.

Saat ini Indonesia memiliki tiga KEK bergerak di sektor kesehatan, yakni KEK Sanur, KEK Edukasi, Teknologi dan Kesehatan Internasional Banten, serta KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam.

Potensi penghematan devisa tersebut dihitung berdasarkan asumsi 2 juta pasien dengan rata-rata pengeluaran Rp75 juta per orang.

Penghematan bisa dicapai dengan mengalihkan belanja kesehatan masyarakat yang selama ini dibelanjakan di luar negeri ke fasilitas kesehatan di dalam negeri.

Airlangga menjelaskan pengembangan KEK kesehatan penting untuk menahan aliran devisa yang keluar akibat masyarakat memilih berobat di luar negeri.

Ada sekitar 2 juta warga Indonesia berobat ke luar negeri setiap tahun, terutama ke Singapura dan Malaysia, dengan total devisa yang keluar diperkirakan mencapai Rp200 triliun.