Selain hilirisasi, transformasi digital menjadi salah satu peluang besar yang perlu dimanfaatkan untuk mempercepat peningkatan produktivitas.Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia perlu memastikan mampu menjadi pengembang, inovator, dan produsen nilai tambah digital.

Ekosistem yang menghubungkan pusat data (data center), Artificial Intelligence (AI), semikonduktor, dan talenta digital menjadi semakin penting dalam menentukan arah perkembangan industri dan daya saing ekonomi pada masa mendatang.

Penguasaan teknologi tersebut perlu diperkuat melalui pengembangan ekosistem industri, kerja sama internasional, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Pemerintah juga telah melakukan kerja sama pengembangan teknologi semikonduktor dengan ARM Holdings dari Inggris sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan desain semikonduktor dan menyiapkan talenta yang dibutuhkan industri. Langkah tersebut diharapkan dapat memperbesar partisipasi Indonesia dalam rantai pasok teknologi global.

Di tingkat internasional, Indonesia juga memperkuat perannya dalam pengembangan dan tata kelola AI melalui keikutsertaan sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) sebagai wadah kerja sama internasional untuk mendorong pengembangan dan tata kelola AI.

Di kawasan ASEAN, penguatan kerja sama melalui Digital Economy Framework Agreement (DEFA) juga menjadi peluang untuk memperluas integrasi ekonomi digital dan membuka kesempatan baru bagi pelaku usaha serta tenaga kerja Indonesia.

Penguatan ekonomi digital perlu diiringi dengan penyiapan SDM yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri.

Pemerintah juga mendorong berbagai program pengembangan talenta digital, antara lain melalui pertukaran talenta teknologi dengan Singapura, pengembangan ekosistem usaha rintisan digital, insentif Super Tax Deduction hingga 200 persen untuk kegiatan tertentu yang memenuhi ketentuan, serta program Digital Talent Scholarship.

Selain transformasi digital, transisi menuju energi dan industri hijau juga menjadi mesin pertumbuhan baru. Kebutuhan listrik nasional diperkirakan meningkat pada 2030 seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan perkembangan industri.

Untuk mendukung kebutuhan energi tersebut, Presiden mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga kapasitas 100 gigawatt.