Di sektor baja, khususnya stainless steel, produk Indonesia juga menghadapi tarif masuk sebesar 50 persen di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris.

Meski demikian, Indonesia dinilai masih dapat bersaing di pasar global apabila penerapan tarif tersebut berlaku secara setara bagi seluruh negara.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah mendorong pemanfaatan green bond dan blended finance untuk mendukung investasi ekonomi hijau, salah satunya komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) yang menyiapkan pendanaan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk Indonesia.

Airlangga juga mengaitkan pengembangan ekonomi hijau dengan pertumbuhan ekonomi digital. Menurut dia, energi hijau menjadi salah satu prasyarat bagi pembangunan infrastruktur ekonomi digital, termasuk pusat data.

Ia menyebut ekonomi digital Indonesia yang saat ini sekitar 100 miliar dolar AS berpotensi berkembang seiring implementasi Digital Economy Framework Agreement.