Selain itu, ia menegaskan ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Erwin menjelaskan memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah.
"Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," terang Erwin.