NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) perlu terus didorong guna mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen.
Menurut dia, saat Rapat Koordinasi (Rakor) Dukungan Kementerian/Lembaga untuk Pengembangan KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu, KEK memiliki tingkat efisiensi investasi yang lebih baik dibandingkan rata-rata nasional.
Hal ini tercermin dari rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di KEK yang lebih rendah daripada angka nasional.
Perbedaan ICOR nasional mencapai 6,1, sementara ICOR di KEK rata-rata di bawah 4.
"(KEK) Inilah salah satu yang harus terus didorong kalau kita melakukan investasi dengan ICOR 4, pertumbuhan 8 persen itu bisa kita capai," ujarnya.
Airlangga menerangkan ICOR yang rendah itu menandakan peningkatan efisiensi investasi.
Tingkat efisiensi investasi menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut.
Dengan ICOR yang rendah, investasi dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini.
Menko Airlangga menambahkan bahwa peningkatan efisiensi investasi menjadi penting untuk mengoptimalkan kontribusi investasi terhadap perekonomian.
"Ke depan, KEK tentu diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan KEK sudah membuktikan bahwa secara nasional ICOR kita sekitar 6, tapi di KEK rata-rata di bawah 4," kata Airlangga.
"Kalau kita mau meningkatkan ICOR salah satunya adalah efisiensi baik di kawasan ekonomi khusus, maupun di kawasan industri karena ini akan mendorong percepatan pertumbuhan," tambahnya.
Lebih lanjut, Airlangga menilai Indonesia masih memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan KEK jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan, seperti Vietnam dan Malaysia.
Ia menyebut luas KEK di kedua negara tersebut mencapai sekitar 1,8 juta hingga 2 juta hektare.
Sementara di Indonesia, luas KEK masih sekitar 24 ribu hektare.
Adapun pemerintah mencatat realisasi investasi di KEK sejak 2012 hingga September 2026 mencapai Rp382,1 triliun dengan menyerap 302.262 tenaga kerja dan melibatkan 509 badan usaha.
Sementara, investasi KEK dari Januari-September 2026 tercatat Rp46 triliun atau 67 persen dari target tahun ini sebesar Rp69,1 triliun.