NADIKABAR.COM — AirNav Indonesia menampilkan inovasi navigasi penerbangan di Amerika Serikat (AS) untuk mendukung modernisasi layanan udara melalui teknologi digital, kecerdasan buatan, dan sistem pemantauan gangguan sinyal satelit dalam menghadapi tantangan ruang udara.

Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap mengatakan dalam mengelola navigasi penerbangan di negara kepulauan menuntut adaptasi teknologi yang berkelanjutan, sehingga pihaknya tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (Communication, Navigation, and Surveillance/CNS).

"Tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI) guna menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis,” ujar Zainal dalam keterangan terkonfirmasi di Semarang, Jawa Tengah, Jumat.

AirNav Indonesia menampilkan sejumlah inovasi untuk mendukung modernisasi layanan navigasi penerbangan dalam sesi Business Briefing pada rangkaian Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM) yang diselenggarakan United States Trade and Development Agency (USTDA) di Arlington, Virginia, Amerika Serikat.

Sebagai representasi, AirNav Indonesia menyampaikan pengembangan teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan operasional pelayanan navigasi di wilayah kepulauan.

Inovasi yang dipaparkan mencakup pertukaran informasi penerbangan, pemanfaatan kecerdasan buatan, serta pemantauan gangguan sinyal navigasi satelit.

AirNav melayani navigasi penerbangan pada dua Flight Information Region (FIR), yakni FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang, dengan luas wilayah pelayanan sekitar 7,79 juta kilometer persegi.