Ia menilai prevalensi stunting nasional yang masih berada di angka 19,8 persen (data Survei Status Gizi Indonesia atau SSGI 2024) menunjukkan masih tingginya jumlah balita yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Apalagi, lanjut Erni, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14,2 persen pada 2029, sehingga masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar karena Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan sekitar 4,4 juta balita masih mengalami stunting pada 2024.
Menurutnya, stunting merupakan persoalan yang kompleks karena berkaitan dengan kondisi sejak masa kehamilan, kualitas asupan gizi ibu dan anak, pola pengasuhan, kesehatan lingkungan, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, hingga kemampuan keluarga memperoleh makanan bergizi.