NADIKABAR.COM — Akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Muhammad Sabbardi berinovasi menyusun buku ajar digital Bahasa Indonesia berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan berwawasan pencegahan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

"Kekerasan di lingkungan perguruan tinggi masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius," kata Sabbardi, dalam pernyataan di Semarang, Kamis.

Menurut dia, bentuk kekerasan tidak hanya berupa fisik dan seksual, tetapi juga perundungan, intimidasi, diskriminasi, serta kekerasan verbal yang dapat terjadi dalam berbagai interaksi akademik maupun kehidupan sosial mahasiswa.

Oleh karena itu, keberadaan regulasi dan mekanisme penanganan kasus merupakan bagian penting dalam upaya perlindungan warga kampus.

Namun, kata dia, pencegahan kekerasan juga membutuhkan pendekatan pendidikan yang mampu membangun pemahaman, kesadaran, dan tanggung jawab mahasiswa secara berkelanjutan.

Upaya pencegahan kekerasan di perguruan tinggi tidak harus selalu dilakukan melalui seminar, sosialisasi, atau kampanye khusus.