Staf Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmat mengatakan aksi membatik massal sepanjang 550 meter dimulai dari Simpang Empat Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret.

Menurut dia, aksi membatik ini sengaja digelar di kawasan Malioboro agar masyarakat luas dan dunia internasional mengetahui Yogyakarta tetap eksis sebagai kota batik dunia.

Ketua Panitia Simfoni 1001 Pembatik 2026 Indah Rahayu Murnihati mengatakan angka 1.001 dipilih sebagai target awal untuk merangkul masyarakat luas agar lebih mengenal warisan budaya batik.

"Saya sampai kewalahan, setiap hari ada yang telepon, bahkan tadi malam masih menginginkan ikut," katanya.

Dia menjelaskan, seluruh peserta membatik kain secara beriringan mengusung tema Sumbu Filosofi Yogyakarta dengan urutan motif mulai dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Plengkung, Panggung Krapyak, hingga Laut Selatan.