Mengenakan kemeja biru dan kacamata berbingkai gelap, dengan potongan rambut pendek di bagian samping, Wong terlihat beberapa kali menganggukkan kepala ke arah para pengunjung di ruang sidang sebelum hukumannya dibacakan. Ia dikawal oleh tiga petugas.

Dalam tahap persidangan ketika terdakwa diberi kesempatan untuk menyampaikan hal-hal yang dapat meringankan hukumannya, Wong mengatakan: "Saya tidak pernah mendukung kemerdekaan Hong Kong. Saya juga tidak pernah menyerukan kehancuran Cina ataupun pergantian rezim pemerintahan."

Ia juga membantah pernah menerima dana dari pihak asing atau mengeluarkan uang untuk menyewa konsultan politik dari luar negeri.

Wong, yang beberapa kali ditangkap karena perannya dalam mengorganisasi aksi demonstrasi prodemokrasi, mengatakan bahwa pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya keliru karena menganggap aktivitas yang dilakukannya masih berada dalam batas-batas hukum.

"Hukuman berat seperti ini membuat banyak warga Hong Kong merasa sangat takut," ujar seorang ibu rumah tangga bernama ET Wong. Ia merupakan salah satu dari puluhan orang yang memenuhi ruang pengunjung pengadilan dan berdiri di luar gedung untuk memberikan dukungan kepada Joshua Wong.

"Kami tidak tahu lagi tindakan seperti apa yang bisa dianggap melanggar hukum. Kami juga tidak tahu perkataan apa yang bisa membuat kami melanggar hukum, tulisan atau gambar seperti apa yang bisa dianggap melanggar hukum. Sekarang kami benar-benar tidak tahu lagi."

Wong telah ditahan sejak November 2020. Saat itu, ia mengaku bersalah karena menghasut dan mengorganisasi aksi demonstrasi antipemerintah tanpa izin selama gelombang protes yang mengguncang Hong Kong pada 2019. Ia sebenarnya dijadwalkan bebas pada Januari tahun depan. Sementara itu, pemerintah Beijing menyatakan bahwa Undang-Undang Keamanan Nasional diperlukan untuk menjaga stabilitas Hong Kong.

Steve Li, pejabat tinggi di departemen keamanan nasional, mengatakan bahwa Wong bukanlah seorang "musuh". Namun, menurutnya, Wong perlu belajar menghormati hukum dan memahami negaranya sendiri.

Pertemuan Joshua Wong dengan sejumlah politisi dari Amerika Serikat, Eropa, dan negara lainnya telah memicu kemarahan pemerintah Beijing. Pemerintah Cina bahkan menyebut Wong sebagai "tangan gelap" dari kekuatan asing.