NADIKABAR.COM — Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menyiapkan strategi untuk mendongkrak kembali kelas menengah yang mengalami tekanan ekonomi agar tidak semakin banyak yang turun ke kelompok rentan.
"Bagaimana kelas menengah yang turun ini bisa kita dongkrak kembali. Jangan sampai yang sudah naik kemudian turun lagi. Kita harus menjaga agar mereka tetap bertahan dan terus naik," kata Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan perkembangan kelas menengah perlu menjadi perhatian serius dalam agenda pemberdayaan masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi agar masyarakat yang telah mencapai kelas menengah tidak kembali turun, tetapi justru memiliki kesempatan untuk kembali bergerak naik.
Menurutnya, mendongkrak kelas menengah membutuhkan intervensi yang berbeda dari sekadar perlindungan sosial.
Pemerintah perlu memastikan kelompok ini memiliki akses terhadap pekerjaan produktif, pembiayaan, keterampilan, pasar, serta peluang mengembangkan usaha.
Dengan demikian, intervensi pemerintah dapat mendorong peningkatan pendapatan secara nyata, bukan hanya menjaga kondisi ekonomi agar tidak memburuk.
Salah satu fokus yang didorong adalah memastikan UMKM dan ekonomi kreatif memperoleh insentif yang tepat, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Dukungan tersebut perlu diarahkan agar usaha tidak berhenti pada potensi, tetapi mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, melakukan ekspansi, dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang nyata.
Dalam konteks tersebut, Muhaimin Iskandar menilai BUMN juga perlu mengambil peran untuk memperkuat ekosistem usaha.
Dukungan BUMN dapat diarahkan pada pengembangan kemitraan, pembukaan akses pasar, penguatan rantai pasok, serta penciptaan ruang bagi UMKM dan pelaku usaha untuk memperluas skala bisnisnya.
Penguatan UMKM juga perlu dilakukan melalui proses graduasi masyarakat menuju kemandirian ekonomi.
Sementara Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan bahwa pemerintah tengah menjalankan program Laksmi (Langkah Akselerasi Kapasitas Usaha Mikro Inklusif) untuk mendampingi masyarakat yang sebelumnya menerima bantuan sosial agar dapat beralih menjadi pelaku usaha.
Uji coba dilakukan terhadap sekitar 1.700 orang dan berpotensi diperluas hingga sekitar 100 ribu penerima manfaat.
Pendampingan tersebut tidak berhenti pada akses pembiayaan, tetapi mencakup perubahan pola pikir, peningkatan kapasitas, sertifikasi, pengembangan produk, pemasaran, hingga kemitraan.
Pendekatan ini penting agar masyarakat tidak hanya mendapatkan modal, tetapi memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Sementara di sektor ekonomi kreatif, ada berbagai program seperti Desa Kreatif, Kreatif Hub, dan Kreatif by Indonesia yang diarahkan tidak sekadar menghasilkan kegiatan, tetapi memberikan dampak ekonomi yang terukur, antara lain melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan omzet, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar.