Dikutip NadiKabar dari Fast Company, Perkins mengatakan permintaan pengguna terhadap fitur-fitur AI baru telah jauh melampaui ekspektasi perusahaan, yang membawa sisi positif dan negatif.
Untuk mengurangi biaya perantara yang harus ditanggung Canva tiap kali tugas AI membutuhkan model terdepan, Canva berupaya mengembangkan fitur-fitur internal yang dapat mengambil alih sebagian pekerjaan tersebut.
Contohnya, Perkins menyebut bahwa sejak meluncurkan Canva 2.0 bulan April, biaya per tugas berkurang hingga 90%. Oktober ini, Canva meluncurkan produk lain bernama Canva Brush, yang diklaim mampu mengurangi biaya per tugas sebesar 46% dibanding agen desain sebelumnya.
Fitur-fitur baru ini memang memberi berbagai perbaikan, namun jika melihat penurunan proyeksi pendapatannya, Canva tampaknya masih harus berjuang sebelum mematangkan model ekonomiannya. Fakta bahwa permintaan pengguna akan perangkat AI Canva melampaui kemampuan perusahaan tampaknya jadi sinyal optimis.