Secara total, pendapatan ASSA mencapai Rp3,06 triliun atau tumbuh 8,05%. Namun, laba bersih justru turun 2,11% menjadi Rp200,92 miliar.
Tekanan laba terjadi karena ekspansi armada meningkatkan beban bunga dan penyusutan. Pinjaman bank ASSA tercatat Rp4,19 triliun, sekitar 1,23 kali dari ekuitas perseroan yang mencapai Rp3,40 triliun.
Di sisi lain, bisnis long-term rental membuka ruang bagi ASSA untuk mengembangkan penggunaan kendaraan listrik atau EV, terutama pada pelanggan korporasi.
TOBA mendapatkan investasi strategis dari HPS Investment Partners dengan nilai maksimal SGD555 juta atau sekitar Rp7,79 triliun.
Investasi tersebut akan disalurkan secara bertahap kepada SBTH Asia Holdings, anak usaha yang menaungi bisnis pengelolaan limbah TOBA.
Modal baru tersebut berasal dari penerbitan saham preferen dan akan digunakan untuk ekspansi bisnis pengelolaan limbah TOBA di kawasan Asia.
Meski ada investor baru, TOBA tetap mempertahankan kendali atas SBTH. Dengan demikian, bisnis pengelolaan limbah tersebut tetap dikonsolidasikan penuh oleh TOBA.
SBTH menaungi tiga perusahaan operasional, yaitu Cora Environment, Asia Medical Enviro Services, dan PT Arah Environmental Indonesia. Ketiganya secara bersama-sama mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah pada semester I 2026.
Transaksi tersebut belum final dan masih menunggu persetujuan pemegang saham TOBA melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
AMMN menyiapkan dana hingga Rp1 triliun untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback.