Menurut dia, kondisi pangan dunia masih menghadapi tekanan akibat krisis pangan, energi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengganggu distribusi logistik dan perdagangan komoditas berbagai negara.
Ia mengungkapkan China saat ini masih mengimpor sekitar 6 juta ton pangan, sementara puluhan negara memilih menahan stok domestik sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian pasokan global.
Amran mengungkapkan, sedikitnya 33 negara menerapkan kebijakan pengamanan stok pangan nasional sehingga distribusi internasional semakin ketat dan membutuhkan langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan pangan dalam negeri.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah terus mengonsolidasikan berbagai langkah penguatan produksi, pengelolaan cadangan, serta pengamanan distribusi agar pasokan pangan nasional tetap tersedia secara berkelanjutan bagi masyarakat.
"Beberapa negara sesuai berita yang Anda tulis, itu 33 negara yang menahan pangannya mempersiapkan stok dengan kondisi geopolitik yang memanas sehingga distribusi sulit, kemudian angkutan, dan seterusnya. Nah ini kita jaga, kita konsolidasi, kita jaga," tegasnya.
Amran menegaskan Indonesia berhasil memasuki tahun kedua tanpa impor beras pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sementara stok beras nasional tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.