NADIKABAR.COM — Lampu jalan menyala ketika sebagian anak lain telah berada di rumah, menyiapkan buku untuk esok hari atau bersiap tidur. Di sudut kota, ada anak yang masih mengikuti orang tuanya mengamen, mengemis, atau sekadar menunggu hasil dari aktivitas yang dilakukan di ruang publik.

Pemandangan semacam itu mudah dianggap sebagai bagian dari keseharian kota. Padahal, ketika anak terlalu lama berada di jalan untuk menghasilkan uang, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi berapa rupiah yang terkumpul, melainkan apa yang sedang dikorbankan.

Kasus di Kota Surabaya, Jawa Timur, memperlihatkan persoalan tersebut. Pemerintah Kota Surabaya menindaklanjuti laporan warga mengenai seorang anak yang diduga diajak ibunya mengamen hingga malam.

Tim Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya melakukan penelusuran dan kunjungan ke rumah keluarga tersebut.

Hasil pendampingan menunjukkan persoalan itu tidak cukup diselesaikan dengan menghentikan aktivitas anak di jalan. Pemerintah kota juga mengarahkan intervensi pada kondisi ekonomi keluarga dengan menawarkan pelatihan menjahit dan mendorong rencana usaha makanan ringan sebagai sumber penghasilan alternatif.