"Jangan sampai anak pintar secara akademik, tetapi tidak memiliki empati dan rasa hormat kepada sesama. Anak harus diajarkan bahwa mengejek, merendahkan, mengucilkan, apalagi menyakiti orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dianggap biasa," kata Ninik.

Ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter melalui keteladanan, komunikasi terbuka, dan pengawasan pergaulan anak. Sementara itu, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan inklusif serta menindaklanjuti setiap indikasi perundungan secara serius, bukan menganggapnya sebagai candaan biasa.

Di samping itu, legislator PKB ini juga menyoroti pentingnya penguatan Sekolah Luar Biasa (SLB). Menurutnya, penguatan SLB harus menjadi bagian dari upaya negara memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang layak, aman, dan bermartabat.

"Penguatan SLB tidak boleh hanya berbicara soal gedung dan fasilitas. Kita juga harus memastikan ketersediaan guru yang kompeten, pendamping yang memadai, serta kurikulum yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak," ujar Nihayatul.

Diketahui, seorang anak penyandang disabilitas di Surabaya meninggal dunia karena diduga jadi korban bully atau perundungan. Pelaku perundungan yang masih berusia 10 dan 8 tahun itu merupakan anak tetangga korban.