Maraknya pemberitaan tentang usus buntu sering kali membuat orang tua overthinking. Dokter mengingatkan, tidak semua keluhan sakit perut berujung pada diagnosis usus buntu. Bisa jadi, anak hanya mengalami infeksi pencernaan ringan atau diare.

Dokter juga menyoroti kebiasaan baru orang tua di era digital yang kerap melakukan swadiagnosis (self-diagnose) menggunakan kecerdasan buatan (AI) alih-alih berkonsultasi langsung ke ahlinya.

"Memang tidak semua sakit perut itu usus buntu. Jadi jangan mentang-mentang karena lagi viral kasus usus buntu, jadi semua sakit perut dianggap usus buntu," pesan dr Himawan.

"Kalau bingung, jangan diagnosis sendiri, atau mentang-mentang tanya AI (Artificial Intelligence) dan ngobatin sendiri. Itu lebih baik diperiksa, karena dokter akan memeriksa langsung kondisi anak tersebut, apakah sakit perut ini bahaya atau tidak," pungkasnya.

Sebagai kesimpulan, orang tua boleh saja memberikan paracetamol untuk meredakan nyeri awal.

Namun, jika nyeri tidak hilang, berpusat di kanan bawah, dan disertai demam atau muntah, segera bawa si kecil ke dokter anak atau instalasi gawat darurat (IGD) terdekat. Penanganan yang cepat dan tepat adalah kunci keselamatan anak.