NADIKABAR.COM — SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) merencanakan penyampaian temuan riset mendalam terkait kekurangan zat gizi mikro (micronutrient deficiency) pada anak usia sekolah kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
"Dari pertemuan wali amanat ini, kita punya salah satunya adalah rencana lima tahun ke depan. Nah, ini adalah salah satu yang akan kami sampaikan kepada Badan Gizi Nasional," kata Centre Director SEAMEO RECFON Prof Rini Sekartini.
Hal tersebut disampaikan Rini dalam konferensi pers di The Hermitage Hotel, Jakarta Pusat pada Rabu (9/9/2026).
Hasil riset organisasi di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini melaporkan temuan bahwa anak-anak di Indonesia masih kekurangan mikronutrisi. Prof Rini menyampaikan bahwa temuan tersebut didapatkan dari penelitian yang melibatkan 4.292 siswa di 12 kabupaten/kota.
Penelitian tersebut mengombinasikan metode wawancara asupan makanan (recall 24 jam) serta pemeriksaan biomarker laboratorium. Temuan menunjukkan kekurangan folat menjadi masalah yang dominan.
Kondisi serupa juga ditemukan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di tingkat SMP, defisiensi gizi didominasi oleh kekurangan asupan folat, kalsium (44%), vitamin C, dan seng.
Sementara pada tingkat SMA, masalah utama yang ditemukan kembali berkisar pada kekurangan folat, kalsium, dan vitamin C. Menanggapi temuan tersebut, SEAMEO RECFON menekankan bahwa kondisi kekurangan zat gizi mikro pada anak tidak bisa disamaratakan di setiap wilayah.
Walaupun hasil riset berperan penting dalam membenahi program gizi di Indonesia, tetapi bukan menjadi evaluasi atas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini ditegaskan oleh Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Dr dr Brian Sri Prahastuti.
"Studi yang dilakukan oleh SEAMEO RECFON ini memang dilakukan beberapa tahun yang lalu sebelum Program Makan Bergizi Gratis itu dijalankan oleh Pemerintah Indonesia," katanya.
Menurutnya, temuan ini tidak bisa dijadikan evaluasi MBG karena kebutuhan menu makan bergizi di setiap daerah berbeda. Ia menegaskan studi ini hanya gambaran situasi gizi anak nasional.
"Poin kami di sini adalah kami tidak dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan program MBG dari pemerintah," ucapnya.
"Hasil penelitian kami yang menemukan poinnya adalah bahwa kekurangan gizi mikro itu adalah fakta yang ditemukan di lapangan dan tidak bisa disamaratakan," sambungnya.
Mengenai sasaran penyampaian rekomendasi kebijakan (policy brief) serta hasil studi riset ini, pihak SEAMEO RECFON mengonfirmasi bahwa diseminasi informasi tidak berhenti di kementerian atau lembaga pemerintah pusat saja.
"Hasil penelitian ini perlu dikomunikasikan sampai ke tingkat kabupaten, bahkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pun penting untuk bisa mengetahui isi dari hasil penelitian ini dan mengakses laporan lengkapnya," kata Brian.
Selain disampaikan kepada BGN, Kemenkes, dan Kemendikdasmen hasil riset juga dipaparkan kepada 11 negara anggota SEAMEO di Asia Tenggara. Langkah ini menjadi bagian dari rencana strategis SEAMEO RECFON dalam 5 tahun.