Ke empat, dinamika suku bunga global, kebijakan The Fed, serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang berpengaruh terhadap persepsi risiko investasi di Indonesia.

Selanjutnya, kelima, perkembangan geopolitik dan harga komoditas global, yang dapat mempengaruhi prospek kinerja emiten di sektor energi, pertambangan, dan industri pengolahan.

Seiring dengan sejumlah sentimen itu, Nafan memproyeksikan volatilitas IHSG masih akan relatif tinggi hingga akhir 2026.

Ia menyebut pemulihan indeks akan sangat bergantung pada keberhasilan reformasi pasar modal dalam mengembalikan kepercayaan investor institusional, khususnya investor asing.

β€œInvestor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan akumulasi secara agresif dan lebih mengutamakan strategi buy on weakness secara bertahap terhadap saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas yang memadai,” ujar Nafan

Untuk saham-saham kategori High Shareholding Concentration (HSC), Nafan mengingatkan investor tetap perlu melakukan seleksi secara cermat.

Ia menyebut perlu dipahami bahwa dikeluarkannya saham HSC dari perhitungan IHSG bukan berarti saham tersebut otomatis tidak layak investasi atau tidak lagi dapat diperdagangkan.

β€œSaham-saham tersebut tetap tercatat di BEI dan dapat ditransaksikan seperti biasa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi berkontribusi terhadap perhitungan IHSG,” ujar Nafan.