Meskipun demikian, Ia mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama terkait keterbatasan free float, konsentrasi kepemilikan, likuiditas perdagangan, serta potensi volatilitas harga yang tinggi.
Selain itu, lanjutnya, saham-saham HSC berpotensi menghadapi tantangan dalam menarik minat investor institusional yang memiliki kebijakan investasi berbasis indeks.
βOleh sebab itu, investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan potensi capital gain, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental, valuasi, transparansi kepemilikan, dan prospek pertumbuhan bisnis masing-masing emiten,β ujar Nafan.
Sebagai alternatif investasi, Nafan melihat saham-saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas relatif baik dan fundamental yang solid masih layak dicermati.
βBeberapa sektor yang dapat menjadi perhatian adalah perbankan, consumer goods, telekomunikasi, dan otomotif,β ujar Nafan.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 14.45 WIB pada Selasa (3/10), IHSG tercatat melemah 179,50 poin atau 3,52 persen ke posisi 4.917,33.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,11 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 7,94 miliar lembar saham senilai Rp18,95 triliun. Sebanyak 73 saham naik 704 saham menurun, dan 186 tidak bergerak nilainya.