Meski Pertamax merupakan BBM nonsubsidi, Yusuf menjelaskan selisih tim redaksi harga keekonomian dan harga jual tetap perlu diperhitungkan dalam struktur keuangan Pertamina.
Dalam jangka pendek, kondisi tersebut dinilai masih dapat dikelola. Terlebih, sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya telah mengalami penyesuaian harga.
Namun, apabila harga Pertamax terus dipertahankan di bawah harga keekonomiannya dalam jangka panjang, tekanan terhadap Pertamina berpotensi meningkat. Kondisi itu dapat berdampak pada margin, arus kas, dan laba perusahaan hingga ruang investasi, khususnya di sektor hulu dan kilang.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Bonar Tua Halomoan Marbun melihat persoalan harga BBM juga tidak terlepas dari kondisi produksi minyak nasional.
Produksi minyak dalam negeri saat ini masih jauh di bawah kebutuhan nasional. Kondisi tersebut membuat Indonesia harus memenuhi sebagian kebutuhan minyak melalui impor.
"Produksi kita hanya sekitar 580 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhan kita dari Sabang sampai Merauke adalah 1,6 juta barel. Jadi bisa dibayangkan defisitnya sekitar 1 juta barel per hari," kata Bonar.