Menurut Bonar, kesenjangan tim redaksi produksi dan kebutuhan minyak tersebut membuat pemerintah dan Pertamina menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, biaya pengadaan minyak harus dipenuhi, sementara di sisi lain harga BBM perlu dijaga agar tetap terjangkau masyarakat.

Tekanan tersebut dapat semakin besar ketika harga minyak dunia meningkat dan kondisi geopolitik global mengganggu kepastian pasokan. Pengadaan minyak, kata Bonar, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membeli, tetapi juga ketersediaan pasokan, waktu pengiriman, kondisi geopolitik, dan sejumlah faktor lainnya.

"Dari sisi kondisi saat ini, secara akademis maupun berdasarkan best practice, kebijakan pemerintah tersebut bisa dipahami. Memang merupakan langkah yang relatif pahit, tetapi bisa diterima sebagai kebijakan untuk mengamankan pasokan yang kebutuhannya semakin besar, sementara harganya tinggi dan kepastian pasokannya semakin rendah," ujar Bonar.

Bonar menambahkan, keputusan mempertahankan harga Pertamax juga dapat membantu menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, kebijakan tersebut dinilai dapat mengurangi potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.

Dengan produksi minyak domestik yang masih terbatas, Bonar menilai kebijakan menahan harga Pertamax menunjukkan upaya pemerintah meredam tekanan harga di tingkat konsumen di tengah tingginya biaya pengadaan energi.