NADIKABAR.COM — Nama Keisha, mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Administrasi Pemerintahan Unpad, mendadak viral di media sosial (medsos). Video perbincangan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam kegiatan Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) 2026 yang diselenggarakan awal Agustus lalu menyedot perhatian publik dan menuai pro-kontra.

Pascaviral, Keisha dikabarkan mengalami tekanan psikologis akibat oversharing kepada Dedi Mulyadi. Selain itu, Keisha dikabarkan enggan berkuliah dan malu kepada teman-temannya.

Di satu sisi, Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita mengatakan kondisi Keisha baik-baik saja. Begitu pun Dedi Mulyadi yang menyebut Keisha dalam keadaan baik, namun Keisha meminta kepada warganet untuk tidak terus membagikan potongan video dirinya saat berbincang dengan KDM.

Hal tersebut menyorot perhatian Dosen Fakultas Komunikasi Unisba, Muhammad W. Fuady. Fuad, sapaan karibnya, mengatakan perbincangan Keisha dan KDM jangan dilihat dari potongan video saja.

"Kita bisa memaknai peristiwa bincang-bincang tim redaksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Keisha, mahasiswa baru Universitas Padjadjaran, dari perspektif komunikasi. Peristiwa ini tidak cukup dibaca hanya dari potongan video yang beredar di media sosial, tetapi perlu dilihat dari keseluruhan konteks ketika komunikasi itu berlangsung, siapa yang berkomunikasi, apa yang dibicarakan, serta bagaimana percakapan tersebut kemudian berpindah dari ruang akademik ke ruang digital," kata Fuad kepada NadiKabar, Jumat (21/8/2026).

"Jika mencermati tayangan secara penuh dan utuh, komunikasi tim redaksi keduanya sebenarnya berlangsung terbuka, hangat, dan responsif. Tidak tampak adanya tekanan dalam percakapan tersebut. Keisha tampil sebagai sosok remaja yang ekspresif dan apa adanya. Seorang mahasiswa baru yang ceplas-ceplos bertemu dengan gubernur yang memang memiliki karakter komunikasi spontan dan cair. Dialog keduanya bahkan berakhir dengan happy ending. Keisha juga mendapatkan perhatian dan bantuan dari gubernur. Semua tampak clear," tambahnya.

Fuad mengungkapkan persoalannya, dalam percakapan tersebut terdapat beberapa momen yang menggelitik. Ketika bagian-bagian tertentu dipenggal dari percakapan utuh, sangat mungkin muncul respons dan persepsi yang berbeda.