Di media sosial, misalnya, beredar klip pendek ketika mahasiswa bercerita mengenai latar belakang keluarganya. Ketika berdiri sendiri, cerita tersebut dapat membuat orang menilai ia terlalu open mengenai kehidupan pribadinya. Mungkin ia sendiri tidak sepenuhnya menyadari bahwa ada batas tim redaksi domain privat dan publik. Diksi yang digunakan saat bercerita juga turut menentukan bagaimana penilaian.
"Jika dikaitkan dengan karakter komunikasi Gen Z, mereka tumbuh dalam lingkungan ketika berbagi pengalaman melalui media digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Batas tim redaksi ruang privat dan ruang publik menjadi semakin tipis. Cerita mengenai keluarga, pengalaman pribadi, kegelisahan, bahkan persoalan yang dahulu dianggap sangat personal dengan mudah menjadi materi story, vlog, podcast, atau konten media sosial," ungkapnya.
Jadi menurut Fuad, dalam perbincangan dengan gubernur pun, mahasiswa bicara sesuai dengan apa yang menjadi pengalamannya. Tentu tidak semua Gen Z demikian, tetapi kultur sharing di media digital membuat keterbukaan terhadap persoalan personal menjadi jauh lebih lazim.
"Momen lain yang kemudian mengundang polemik adalah ketika gubernur memberikan tanggapan mengenai pilihan program studi Keisha. Dedi Mulyadi memang dikenal sebagai sosok yang spontan dalam merespons situasi. Gaya tersebut selama ini justru menjadi salah satu kekuatan komunikasinya karena membuat dirinya terlihat cair dan dekat dengan masyarakat. Namun dalam konteks ini, lulusan maupun mahasiswa baru program studi tersebut sangat wajar apabila merasa kecewa dengan pernyataan yang disampaikan. Pesan tersebut diterima publik sebagai sebuah warning atau peringatan," jelasnya.
Terlebih yang berbicara menurut Fuad adalah seorang gubernur. Kalimat yang mungkin terdengar sebagai candaan ketika disampaikan antarteman memiliki bobot berbeda ketika disampaikan seorang gubernur kepada mahasiswa dalam situasi publik. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula konsekuensi komunikasinya. Karena itu, spontanitas tetap membutuhkan sensitivitas terhadap siapa yang menjadi lawan bicara dan dalam situasi apa komunikasi berlangsung.
"Tidak mengherankan jika kemudian bermunculan klip mengenai percakapan tersebut di beranda media sosial. Potongan yang mengandung polemik tentu memiliki daya tarik lebih besar untuk dibagikan, dikomentari, dan diperdebatkan. Apalagi publik media sosial kita mempunyai kecenderungan senang meluaskan berbagai kontroversi. Percakapan yang semula berlangsung dalam sebuah acara akhirnya keluar dari konteks awal dan memasuki ruang interpretasi yang jauh lebih luas," terangnya.
Dalam kajian komunikasi, fenomena ini dapat dibaca sebagai context collapse, runtuhnya batasan konteks sosial karena teknologi digital. Dialog dalam konteks event dengan mahasiswa baru, ketika rekaman dipotong dan tersebar di media sosial, audiensnya berubah.