Orang yang tidak hadir, tidak menyaksikan percakapan secara utuh, dan tidak mengetahui suasana ketika dialog berlangsung ikut memberikan pemaknaan. Akibatnya, satu peristiwa komunikasi dapat melahirkan banyak respons yang berbeda.

"Di sinilah berlaku prinsip bahwa komunikasi bersifat irreversible. Pesan yang telah disampaikan tidak dapat ditarik kembali seolah-olah tidak pernah terjadi. Klarifikasi dapat diberikan, konteks dapat dijelaskan, bahkan kesalahpahaman dapat diluruskan, tetapi jejak pesan dan persepsi yang telah terbentuk tidak serta-merta menghilang. Terlebih pada era digital ketika sebuah ucapan dapat direkam, disimpan, dipotong, dan disebarluaskan kembali kapan saja," paparnya.

Mencermati gaya komunikasi KDM, kontroversi sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jawa Barat memiliki gubernur yang memang tidak khawatir berhadapan dengan kontroversi, KDM merupakan sosok yang selalu berada di pusaran isu. Berpindah dari satu kontroversi berlanjut ke kontroversi lainnya.

"Karakter komunikasi semacam itu pula yang ikut membuat dirinya memiliki tingkat popularitas yang tinggi. KDM memahami bagaimana perhatian publik bekerja dan memiliki kemampuan mempertahankan dirinya dalam percakapan publik," paparnya.

Secara normatif, Fuad menuturkan jika pejabat publik sebaiknya membuat statement yang memotivasi dan membangun kepercayaan diri audiensnya. Kritik terhadap program studi atau dunia pendidikan misalnya, tentu sah disampaikan, tetapi konteks, momentum, dan cara menyampaikannya tetap perlu diperhatikan.

"Bagaimanapun, spontanitas merupakan salah satu karakter dan kekuatan KDM, tetapi perlu dibarengi sensitivitas, empati, dan kesadaran atas dampak ucapan beliau," pungkasnya.