NADIKABAR.COM — Cuplikan seri terbaru video game Call of Duty dibuka dengan tayangan sejumlah anak muda yang menjalani wajib militer Korea Selatan sedang menjalankan patroli rutin.
Beberapa saat kemudian, serangan rudal Korea Utara menghantam wilayah Korea Selatan dan memulai peperangan di Semenanjung Korea.
Trailer video game Modern Warfare 4 ditonton 22 juta kali ketika diluncurkan pada Mei. Hingga 22 Oktober 2026, cuplikan video itu sudah disaksikan 61 juta kali.
Sebagian kalangan menuduh game yang dirilis pada 23 Oktober tersebut menjadikan konflik yang belum terselesaikan sebagai hiburan, sementara kalangan lainnya menyambut baik bahwa konflik itu diceritakan dari sudut pandang tentara Korea Selatan.
Namun, bisakah Korea Utara benar-benar melancarkan invasi ke Korea Selatan seperti yang digambarkan dalam game tersebut?
Perang Korean dimulai pada 1950 diakhiri dengan kesepakatan gencatan senjata pada 1953. Setidaknya tiga juta orang tewas dalam perang tersebut (RV Spencer/Interim Archives/Getty Images)
Lima tahun setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua yang mengakibatkan Korea terpecah, Korea Utara menginvasi Korea Selatan pada 25 Juni 1950 dan memicu Perang Korea.
Perang tersebut lebih dari sekadar konflik regional, melainkan pertarungan antara kekuatan-kekuatan besar Perang Dingin: Korea Utara bagian dari Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet, sementara Korea Selatan bersekutu dengan Amerika Serikat dan Blok Barat.
Pasukan Korea Utara bergerak maju dengan cepat dan merebut Seoul hanya dalam waktu tiga hari. Dalam hitungan pekan, mereka memukul mundur pasukan Korea Selatan dan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa pimpinan Amerika Serikat ke lini pertahanan di sekitar kota pelabuhan Busan.
Namun konflik berbalik menguntungkan Korea Selatan pada September 1950 ketika Jenderal Amerika Serikat, Douglas MacArthur, memimpin pendaratan mendadak di Incheon. China ikut terlibat perang sebulan kemudian.
Dalam beberapa tahun berikutnya, kedua kubu bertempur tanpa ada pihak yang kalah dan menang. Gencatan senjata kemudian disepakati pada 27 Juli 1953.
Gencatan senjata itu menghentikan pertempuran, tetapi bukan perjanjian damai.
Meski ditandatangani Korea Utara, China, dan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa pimpinan Amerika Serikat, Korea Selatan menolak menandatanganinya.
Gencatan senjata tersebut menetapkan garis penghentian pertempuran yang dekat dengan posisi garis depan saat itu sehingga menciptakan zona demiliterisasi (DMZ) selebar 4 km. Hingga kini wilayah itu tetap menjadi salah satu perbatasan paling dijaga ketat di dunia.
Lebih dari 70 tahun kemudian, kedua Korea secara teknis masih berada dalam keadaan perang. Meski telah terjadi berbagai bentrokan di darat maupun laut, kedua negara menghindari perang terbuka.
Sedikitnya tiga juta orang tewas dalam Perang Korea, menjadikannya salah satu konflik paling mematikan pada era modern.
Pada 2024, Kim Jong-un mengatakan kepada para anggota parlemen negaranya bahwa Korea Utara tidak lagi menginginkan reunifikasi dengan Korea Selatan (Getty Images)
Selama beberapa dekade setelah berakhirnya Perang Korea, Korea Utara secara berkala menyatakan ingin mewujudkan penyatuan kembali Semenanjung Korea secara damai, meski dengan syarat mereka sendiri.
Namun posisi Pyongyang berubah pada Januari 2024. Ketika itu, Pemimpin Tertinggi saat ini, Kim Jong-un, mengatakan kepada parlemen negaranya bahwa Korea Utara tidak menginginkan lagi penyatuan dengan Korea Selatan.