Meski banyak dari sekitar 16.000 tentara Korea Utara yang bergabung dalam perang tersebut diyakini terluka atau tewas, para analis mengatakan mereka yang selamat kemungkinan akan kembali dengan pengalaman berharga, termasuk dalam penggunaan drone, yang menjadi aspek penting dalam peperangan modern.
Korea Selatan punya kekuatan angkatan udara dan teknologi militer yang unggul, kata sejumlah pakar. Namun, Korea Utara punya senjata nuklit dan jumlah rudal yang lebih banyak (SeongJoon Cho/Bloomberg via Getty Images)
Terlepas dari sejumlah keunggulan militernya, Korsel punya kelemahan. Para ahli mengatakan geografi Korsel membuat negara itu rentan terhadap serangan dari Korut.
Ibu kota Seoul hanya berjarak 38-50 km sebelah selatan DMZ. Kawasan metropolitan Seoul juga lebih luas, yang mencakup Kota Metropolitan Incheon dan Provinsi Gyeonggi, dihuni lebih dari separuh populasi negara tersebut.
Kedekatan dengan perbatasan ini, ditambah kemampuan artileri, roket, rudal, dan drone Korea Utara, membuat ibu kota Korea Selatan "rentan dan sangat sulit dievakuasi", kata Tertitskiy.
Dia juga mencatat bahwa Korea Selatan menghadapi tekanan demografis jangka panjang. Korsel merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia sehingga jumlah calon personel militer yang bisa direkrut tidak banyak.
Menurut data Kementerian Pertahanan Korea Selatan, jumlah personel militer aktif turun dari sekitar 563.000 orang pada 2019 menjadi sekitar 450.000 orang pada 2025.
Serial game Call of Duty adalah salah satu yang tersukses di dunia. Selama 20 tahun terakhir, serial game tersebut dibeli ratusan juta unit (Infinity Ward/Activision)
Para ahli mengatakan bahwa meskipun peluang terjadinya konflik besar antara Korea Utara dan Korea Selatan rendah, konsekuensinya akan sangat serius jika itu benar-benar terjadi.
Bruce Klingner, mantan analis CIA dan Defense Intelligence Agency yang kini bekerja di lembaga kajian The Maureen and Mike Mansfield Foundation yang berbasis di Washington, mengatakan serangan Korea Utara kemungkinan akan memicu "respons militer multinasional" yang melibatkan pasukan Amerika Serikat.
Hal ini dapat menyeret China dan Rusia, yang memiliki perjanjian militer tersendiri dengan Pyongyang.
Tertitskiy mengatakan konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan akan membawa "kemungkinan nyata terjadinya bukan hanya perang nuklir tetapi juga perang termonuklir".
Senjata termonuklir, yang sering disebut bom hidrogen, menggunakan fusi nuklir sekaligus fisi nuklir, sehingga berpotensi jauh lebih kuat daripada bom atom yang dijatuhkan di Jepang pada 1945.
Bahkan tanpa senjata nuklir, invasi Korea Utara dapat menyebabkan kehancuran yang sangat besar, kata Klingner.
"Korea Utara memiliki jumlah besar pasukan artileri yang ditempatkan dekat DMZ dan dapat menembaki Seoul tanpa harus bergerak maju," katanya.
"Pyongyang juga memiliki ratusan atau ribuan rudal, beberapa di antaranya dapat menghindari sistem pertahanan rudal sekutu."
Sebagian pihak mengkritik premis game Modern Warfare 4, namun Tertitskiy bukan salah satunya. Dia tinggal di Seoul dan, sebagai warga negara yang dinaturalisasi, akan dipanggil untuk bertempur jika perang terjadi.
"Bagaimanapun bentuknya, ini akan membuat banyak orang memikirkan semenanjung kami," katanya.