Konstitusi diubah untuk menyebut Korea Selatan sebagai "musuh utama dan musuh pokok yang tidak berubah" bagi Korea Utara, serta menambahkan bahwa kedua negara harus diperlakukan sebagai entitas yang terpisah dan saling bermusuhan.

Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan sebagai bagian dari aliansinya dengan Seoul.

Korea Utara menyatakan memiliki senjata nuklir pada 2022 dan berikrar tak akan menyerahkan senjata tersebut (KCNA VIA KNS/AFP via Getty Images)

Selama berpuluh tahun, para pejabat Barat dan Korea Selatan serta para ahli militer menggunakan simulasi perang, latihan militer, dan penilaian intelijen untuk mengkaji kemungkinan invasi serta bagaimana invasi mungkin berlangsung.

Pada 2023, Komunitas Intelijen Amerika Serikat sebuah kelompok lembaga dan organisasi intelijen federal merilis laporan yang menyatakan bahwa Korea Utara amat mungkin menggunakan persenjataan nuklir dan rudal balistiknya untuk meraih pengaruh regional dan sebagai alat penangkal ketimbang melancarkan serangan skala penuh.

Markus Garlauskas, mantan pejabat Intelijen Nasional Amerika Serikat untuk Korea Utara yang kini bekerja di lembaga kajian Atlantic Council yang berbasis di Washington, mengatakan bahwa jika Pyongyang menyerang Seoul, kemungkinan besar serangan itu dilakukan dalam skala "terbatas" menggunakan rudal, dengan dukungan ancaman eskalasi nuklir.

Korea Utara adalah satu-satunya negara selain China di Asia Timur yang memiliki senjata nuklir. Secara total, sembilan negara di dunia secara luas diyakini punya senjata nuklir.

Kalaupun Korea Utara mencoba melakukan invasi, para ahli mengatakan ada berbagai tantangan.

Selain senjata nuklirnya, Korea Utara memiliki militer yang jauh lebih besar dibandingkan Korea Selatan.

Korut diperkirakan punya 1,2 juta tentara dibandingkan Korsel yang punya 450.000 tentara. Korut juga memiliki lebih banyak tank dan artileri, serta persediaan rudal yang lebih besar.

Meski demikian, "Saya akan berhati-hati untuk tidak meremehkan keunggulan Korea Selatan dalam kekuatan udara," kata Fyodor Tertitskiy, dosen Divisi Studi Internasional di Korea University, Seoul.

Korea Selatan secara luas dianggap memiliki militer paling maju kelima di dunia, dengan anggaran pertahanan sekitar US$43 miliar.

Jumlah ini jauh lebih besar daripada perekonomian Korea Utara, apalagi anggaran pertahanannya yang mencapai sekitar US$1,6 miliar.

Menurut Tertitskiy, Korea Utara juga memiliki struktur militer yang kaku dan sangat tersentralisasi. Struktur ini dirancang untuk mencegah kudeta terhadap Pemimpin Tertinggi, bukan untuk menciptakan efisiensi.

Untuk tujuan tersebut, banyak keputusan di dalam unit Tentara Rakyat Korea (KPA) memerlukan persetujuan dari pejabat politik atau keamanan, jelas Tertitskiy. Hal ini mengurangi kemampuan para komandan untuk bertindak secara mandiri dan cepat dalam situasi medan perang, tambahnya.

Ada pula persoalan peralatan militer Korea Utara yang sudah menua.

Pada 2018, Korea Selatan memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 810 pesawat tempur, tetapi banyak di antaranya merupakan model era Soviet. Bahkan jet tempur paling modern milik negara itu, MiG-29, diperoleh beberapa dekade lalu, kata Korea Selatan.

Namun para analis mengatakan Korea Utara mungkin memperoleh manfaat dari pengiriman pasukannya untuk bertempur bersama pasukan Rusia dalam perang di Ukraina.