Kepala BWS Sumatera V Padang, Reski Wahyudi, menjelaskan alokasi anggaran penanganan sumber daya air pascabencana di Sumatera Barat mencapai sekitar Rp 4,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp380 miliar dialokasikan untuk penanganan tanggap darurat, sedangkan sekitar Rp3,8 triliun disiapkan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

Khusus Kota Padang, alokasi rehab-rekon yang disiapkan mencapai sekitar Rp782 miliar. Adapun pekerjaan tersebut mencakup penanganan Batang Kuranji dan Batang Air Dingin, termasuk kawasan Gunung Nago dan Koto Tuo.

Menurut Reski, paket pekerjaan tersebut dirancang tidak hanya untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi, tetapi juga memperkuat sistem pengendalian banjir dan sedimen. Rencana penanganannya meliputi pembangunan dua bendungan, tiga cek dam, normalisasi sungai, pembangunan tanggul, serta pekerjaan terkait penyediaan air baku.

"Untuk Kota Padang, penanganan difokuskan pada dua sungai utama, yakni Batang Kuranji dan Batang Air Dingin, dengan pekerjaan yang tersebar di sejumlah titik. Kita juga menyiapkan bangunan pengendali sedimen di bagian hulu agar material tidak terus terbawa ke hilir ketika terjadi hujan deras," jelas Reski.

Ia menambahkan, penanganan permanen yang semula ditargetkan mulai pada November dapat dimulai pada Oktober 2026. Percepatan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kejadian banjir berulang di Kota Padang.

Secara keseluruhan, pekerjaan penanganan pascabencana yang dilaksanakan BWS Sumatera V mencakup 43 sungai di sejumlah kabupaten dan kota. Berdasarkan paparan Reski, progres perkuatan tebing dan penanganan tanggul berada di kisaran 75 persen, sedangkan normalisasi sungai telah mencapai sekitar 87 persen.