NADIKABAR.COM — Anggota Dewan Energi Nasional M. Kholid Syeirozi menilai bisnis minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih memiliki prospek cukup baik dan jauh dari kata senjakala.
"Dengan prospek bisnis migas yang belum masuk fase senjakala, memberi peluang besar Indonesia menjadi negara maju di 2045," ucap Kholid dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu.
Demikian disampaikannya dalam kegiatan diskusi buku "Senjakala Industri Migas; Migas dan Pembangunan Indonesia 1899-2023 dan Seminar Tata Kelola Energi" yang dilaksanakan Rumah Energi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu.
Sementara, Sekjen Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan Andang Bachtiar dalam diskusi itu menyatakan Provinsi Kepulauan Riau memiliki aset migas yang sangat besar di Laut Natuna.
Namun, kata dia, sampai saat ini proses eksplorasi migas di Blok Natuna belum berjalan optimal karena berbagai persoalan tata kelola migas.
"Masih terdapat 110 area potensial di Indonesia dengan cadangan baru minyak dan gas yang belum di eksplorasi hingga Januari 2026," ungkapnya.
Sedangkan, akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Sayed Fauzan Riyadi menyampaikan perlu pengawalan dan pendampingan terhadap proses revisi Undang-Undang Migas yang tengah berjalan di DPR RI.
Menurut dia, selama ini persoalan migas lebih banyak dibahas di tingkat elite. Sementara, masyarakat kurang mendapat pengetahuan yang cukup perihal migas sehingga perlu diberikan informasi yang baik.
Untuk itu, Sayed mengajak kaum intelektual khususnya para mahasiswa untuk lebih peka terhadap kebijakan sektor migas.
"Khususnya di Provinsi Kepulauan Riau agar perbaikan tata kelola migas nasional berdampak langsung bagi daerah penghasil migas," ucapnya.
Sebelumnya, pengamat migas Pri Agung Rakhmanto menyatakan penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus didorong untuk meningkatkan daya saing investasi sektor hulu minyak dan gas bumi nasional.
"Sinergi tersebut menjadi salah satu kunci untuk mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, mendorong peningkatan produksi serta memperkuat ketahanan energi nasional," kata pengamat migas dari Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (18/9).
Ia mengatakan Indonesia masih memiliki potensi sumber daya migas yang besar. Namun, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh potensi bawah permukaan (underground risk), melainkan juga faktor above ground risk, seperti kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.