NADIKABAR.COM — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI meminta agar risiko terjadinya "bullying" atau perundungan di Sekolah Rakyat diantisipasi sejak dini, apalagi karena menerapkan sistem asrama.
"Saya kira ini (perundungan) tantangan semua sekolah, apalagi sekolah berasrama," kata anggota Komite III DPD RI Muhdi saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Semarang, Senin.
Ia mengingatkan kepala sekolah untuk memaksimalkan perangkat CCTV untuk membantu melakukan pengawasan aktivitas siswa, terutama di jam-jam di luar pelajaran.
"Terutama, saya pesankan di jam-jam tidak belajar. Yaitu, pasti di antara belajar, sebelum dan sesudah. Karena kan waktunya sangat banyak, begitu luas seperti ini," katanya.
Menurut dia, sekolah berasrama memang memerlukan pengawasan yang lebih intens, sebab waktu interaksi antarsiswa menjadi lebih panjang selepas jam sekolah.
"Maka wali asuh itu betul-betul harus terus mengawasi perkembangan anak, di samping guru-guru. Jadi, betul saya kira harus 'concern'-nya di situ," katanya.
Dari hasil peninjauan Sekolah Rakyat tersebut, ia melihat aspek sarana prasarana sudah cukup bagus, tetapi penghijauan memang belum sempurna karena masih relatif baru dibangun.
"Sarana umum, sarana prasarana sudah cukup bagus. Cuma, karena udara sangat panas dan lingkungan di sini belum tumbuh banyak pohon," katanya.
Meskipun di ruang kelas tidak diberi pendingin udara, kata dia, setidaknya dipasang kipas agar siswa-siswi lebih nyaman dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Kemudian, kata dia, pentingnya layanan kesehatan dengan adanya dokter yang secara rutin datang ke sekolah tersebut untuk memeriksa kesehatan para siswa-siswi.
"Walaupun Alhamdulillah sudah dikirim perawat, tapi saya berharap karena puskesmas juga cukup jauh. Kalau memungkinkan dengan jumlah siswa sebanyak ini apakah tidak mungkin satu hari berapa jam atau seminggu berapa hari dokter bisa berkunjung ke sini," katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terpadu 1 Semarang Ridho Irwanto menyampaikan apresiasi atas beberapa masukan, seperti perlunya tempat bermain anak dan pelayanan kesehatan.
Ia menyebutkan jumlah siswa di sekolah tersebut secara total adalah 356 siswa, baik jenjang SD, SMP, maupun SMA.
"Total 356 siswa, terdiri atas siswa SD, SMP, dan SMA masing-masing 90 siswa, ditambah 86 itu dari siswa rintisan. Untuk siswa rintisan, 40 siswa SMA dan 35 SD," katanya.