Terkait kemungkinan penyelenggaraan kegiatan serupa bagi warga Jakarta nonmuslim, Dailami menyebut hal itu memungkinkan melalui ajang lain, seperti pemilihan putri pariwisata.

"Terpenting kalau untuk penyelenggaraan Abnon Jakarta harus tetap mempertahankan esensi dan nilai budaya yang menjadi identitasnya," paparnya.

Anggota LAKB yang juga Rektor STIAMI, Profesor Sylviana Murni, menilai penyelenggaraan Abnon Jakarta perlu disikapi melalui evaluasi dan pendefinisian ulang agar terjadi harmonisasi dengan nilai-nilai Betawi.

Pembenahan tersebut harus mengacu pada akar budaya Betawi, termasuk nilai adat dan agama.

Melalui forum diskusi, diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.

‎"Menurut saya, ini memang perlu kita evaluasi, kita perlu redefinisi, kita perlu lagi kumpul bareng. Saya apresiasi Bang Ferdy (Dailami Firdaus) yang sudah menginisiasi diskusi ini," katanya.