NADIKABAR.COM — Anggota Komisi I DPR RI Abraham Sridjaja mengecam pidato Perdana Menteri Kepulauan Solomon di Sidang Umum PBB yang kembali menggulirkan tuduhan "pelanggaran HAM di Papua".

Abraham dalam keterangan di Jakarta, Sabtu menilai pernyataan tersebut sembrono, sepihak, dan tidak berdasar fakta.

"Seorang kepala pemerintahan berdiri di mimbar PBB, melempar tuduhan kepada negara sahabat, tetapi tidak berani menyebut dari mana laporannya berasal, siapa yang menyusunnya, dan bagaimana diverifikasi. Menuntut transparansi dari Indonesia, tetapi sumber tuduhannya sendiri disembunyikan. Itu standar ganda," ucap Abraham.

Ia menegaskan pihak yang secara nyata dan berulang merampas hak hidup rakyat Papua adalah kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"PM Solomon bicara soal saudara Melanesia. Lalu di mana suaranya ketika saudara-saudara Melanesia itu ditembak, disandera, dan dibunuh oleh OPM?" ujarnya.

Ia pun merinci fakta yang terjadi dalam dua tahun terakhir di wilayah Papua.

Pertama, pada 9 September 2026 di Jayawijaya, tiga ASN, yakni Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Willi Mbuik, ditembak mati oleh KKB di Muliama saat menjalankan tugas menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Komnas HAM mengungkap mereka dibunuh setelah dituduh sebagai intel.