Kedua, 18 Agustus 2026 di Distrik Jila, Mimika. Seorang ibu, Neregingget Magai (48), ditembak mati karena menolak disandera. Seorang korban lainnya dilempar ke jurang hingga patah kaki, dan sembilan perempuan, termasuk tiga murid SD dan seorang remaja yang sedang hamil, diculik ke hutan.
Ketiga, September 2026 di Wamena-Mbua. Sopir Aris Sanda disandera, dipaksa menyatakan dukungan Papua Merdeka di bawah todongan senjata, lalu ditembak. Jenazahnya ditemukan di kendaraan yang dibakar.
Keempat, Juli 2026 di Yahukimo dan Puncak. OPM membakar pesawat perintis misi kemanusiaan milik AMA serta membakar gedung dan rumah guru SD Pinapa.
Kelima, April 2025 di Yahukimo. Pembantaian terhadap pendulang emas yang menewaskan belasan warga sipil dengan luka tembak, bacok, dan panah.
Keenam, Maret 2025 di Anggruk, Yahukimo. Seorang guru dibunuh dan sedikitnya tujuh guru serta tenaga kesehatan dianiaya, sehingga layanan pendidikan dan kesehatan di puluhan distrik lumpuh.
Polda Papua mencatat selama Januari hingga September 2026 saja, 29 orang tewas akibat aksi OPM di Papua Pegunungan dan 25 di antaranya adalah warga sipil.