Fikri yang juga Dewan Pembina Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) mengatakan penyediaan fitur aksesibilitas dalam pelaksanaan TKA merupakan bagian dari upaya memastikan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam mengakses pendidikan.
Menurut dia, peserta didik tunanetra perlu mendapatkan dukungan teknologi yang memungkinkan mereka mengakses soal dan mengerjakan ujian secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan orang lain.
Selain akses pendidikan, Fikri juga menyoroti kebutuhan peningkatan aksesibilitas bagi tunanetra pada sektor literasi digital, olahraga, dan layanan perbankan. Di bidang literasi, ia mengharapkan Perpustakaan Nasional segera merealisasikan akses yang ramah bagi tunanetra pada aplikasi perpustakaan digital i-Pusnas.
Sementara pada sektor olahraga, ia mendorong Kementerian Pemuda dan Olahraga membuka ruang koordinasi dengan Pertuni untuk mendukung pembinaan atlet disabilitas netra yang telah berprestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Kemudian pada sektor keuangan, Fikri berharap perbankan BUMN dapat menyederhanakan persyaratan administrasi untuk mengintegrasikan Kartu Tanda Anggota (KTA) Pertuni menjadi kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sebagai bagian dari penguatan inklusi keuangan.