Selain tercermin dari perubahan indeks kemiskinan, kondisi positif ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Abdus menjelaskan, faktor tersebut meliputi perkembangan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, aktivitas ekonomi, hingga perubahan harga kebutuhan pokok, khususnya pangan.

Menurutnya, stabilitas harga pangan turut berpengaruh terhadap kondisi pengeluaran masyarakat berpendapatan rendah. Hal tersebut berkaitan dengan besarnya porsi kebutuhan makanan dalam pembentukan garis kemiskinan.

"Stabilitas harga pangan menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan karena pengeluaran untuk kebutuhan makanan memiliki porsi yang besar dalam pembentukan garis kemiskinan. Oleh karena itu, upaya menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah, menjadi sangat penting," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa penurunan angka kemiskinan tersebut merupakan hasil gotong royong dan kolaborasi berbagai pihak. Ia menyebut dukungan masyarakat turut berperan dalam menyukseskan berbagai program pengentasan kemiskinan di daerahnya.

Sebagai tindak lanjut dari kolaborasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjalankan empat strategi utama untuk menanggulangi kemiskinan. Salah satu langkah yang dilakukan ialah mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin dan rentan melalui penyaluran bantuan sosial serta pemenuhan kebutuhan dasar.

Salah satu bentuk pelaksanaan strategi tersebut diwujudkan melalui program Banyuwangi Berbagi yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat. Melalui program ini, bantuan sembako serta bahan pangan berprotein disalurkan kepada warga miskin desil 1 dan 2 secara by name by address.