Saat beroperasi penuh, setiap kereta api direncanakan membawa hingga 20 gerbong kontainer dengan kapasitas sekitar 550 ton komoditas dalam satu perjalanan.
Dalam skema operasional yang dipersiapkan, sekitar 75 ekor sapi dapat diangkut menggunakan tiga gerbong, sedangkan gerbong lainnya digunakan untuk membawa hasil pertanian dan komoditas lainnya.
Pengangkutan menggunakan kontainer yang disesuaikan dengan karakteristik dan jenis komoditas. Untuk ternak hidup, sarana dipersiapkan sesuai standar teknis, keselamatan, kelayakan operasional, pengujian, sertifikasi, ketentuan peraturan perundang-undangan, serta memperhatikan kesejahteraan hewan.
Dalam pengembangannya, juga disiapkan muatan balik dari Jakarta menuju Banyuwangi untuk mengoptimalkan kapasitas angkut. Komoditas yang berpotensi diangkut antara lain pakan ternak, pupuk, dedak, serta kebutuhan logistik lainnya.
Anne mengatakan pengembangan layanan tersebut akan melengkapi portofolio angkutan non-batu bara yang selama ini telah dilayani KAI.
“Kereta api memiliki kapasitas angkut besar dan perjalanan yang terjadwal. Dari semen dan klinker, peti kemas, BBM, hasil perkebunan, ritel, hingga pupuk, layanan angkutan KAI terus berkembang mengikuti kebutuhan logistik. Kehadiran angkutan hasil pertanian dan peternakan diharapkan semakin menghubungkan sentra produksi dengan pasar serta mendukung kelancaran rantai pasok pangan nasional,” tutup Anne.